Yuk .. Jelajahi kota Sydney

By Merry Ni Kadek

Keinginan untuk belajar di negeri Kangaroo bukanlah sebuah mimpi yang tak mungkin terwujud. Siapapun dengan latar belakang apapun bisa meraih mimpi untuk belajar di luar negeri. Semua akan terwujud jika ada niat yang sungguh-sungguh dan berusaha semaksimal mungkin.

Sedikit cerita tentang penulis ya ...

Sejak usia dini saya memang sudah suka dengan bahasa Inggris. Pada awalnya saya senang mendengar lagu berbahasa Inggris yang pada waktu usia 5 tahun saya mendengarkan lagu Celine Dion untuk pertama kalinya “My Heart Will Go On”. Pada waktu itu film “Titanic” sangat terkenal dan saya suka menontonnya berulang kali. Hingga akhirnya saya belajar bahasa Inggris dari lirik lagu. Perlahan, saya belajar dari film dengan cara menontonnya tanpa membaca subtitles. Dengan cara ini akan lebih cepat melatih daya tangkap (listening skills) serta melatih menulis dalam ejaan bahasa Inggris (Writing skills). Setelah menonton untuk pertama kalinya tanpa subtitles, saya menonton untuk kedua kalinya dengan subtitles. Dengan begitu saya dapat menguji kemampuan diri sendiri seberapa jauh saya paham isi film secera keseluruhan baik dari segi listening (mendengarkan) , writing (penulisan) dan pronunciation (pelafalan).

Jika menurut pembaca cara ini bermaanfaat, selamat mencoba ya ...

Ketika datang pertama kali di Sydney tahun 2014, saya jatuh cinta dengan kota ini. Sebelum datang ke Sydney, saya sudah mengunjungi Melbourne dan Gold Coast. Lalu Sydney kota terakhir yang saya kunjungi sebelum pulang ke Indonesia. Sydney sangat unik dan beragam latar belakang di dunia ada di kota ini. Dari segi cuaca Sydney lebih hangat dari Melbourne dan tidak sepanas Gold Coast. Jadi untuk pendatang dari Negara tropis seperti Indonesia sangat cocok dengan cuaca Sydney .. hehe ..

  • Kenapa pilih Sydney?

Ini adalah pertanyaan yang sangat lumrah ditanyakan oleh orang-orang sekitar saya. Mengingat Sydney merupakan salah satu kota termahal di dunia tentu secara keuangan memang harus dipertimbangkan jika ingin sekolah di kota ini. Saya sudah berkeliling ke bebrapa Negara dan membandingkan Negara satu dengan lainnya. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan saya sebelum akhirnya Sydney menjadi pilihan saya.

  1. Sydney hanya ditempuh dengan 7 jam penerbangan dari Bali. Sangat mudah jika ingin pulang atau mengunjungi keluarga tanpa harus menempuh penerbangan berjam-jam lamanya. Hal ini juga berkaitan dengan harga tiket pesawat jauh lebih murah dari Sydney ke Bali dibandingkan dari Eropa/USA.

  2. Sydney adalah Negara 4 musim yang pada waktu musim dingin (Winter) suhunya tidak sampai minus dan membuat jalanan bersalju. Saya sudah merasakan dinginnya Negara bersalju pada musim dingin seperti di Switzerland, Paris, Turkey, Korea, Japan hingga Alaska. Saya tidak tahan dengan dingin dan merasa kurang nyaman berpakain tebal. Terlebih lagi ketika bangun di pagi hari, salju masih menutupi halaman dan jalanan, Kalau mau keluar rumah harus kerok salju dulu supaya bisa lewat. Ya Tuhan repotnya .. haha. Jadi Sydney sangat cocok dengan daya tahan tubuh saya, hehe ..

  3. Karena saya sangat cinta bahasa Inggris dan ingin mengembangkan kemampuan saya, Sydney sebagai bagian dari Australia yg bahasa ibunya adalah bahasa Inggris maka terbanglah saya ke Sydney.

Bagaimana dengan kamu? Sudah siap terbang ke Sydney juga?

  • Tinggal di Sydney

Saya akui segala sesuatu di Sydney memang mahal. Terutama biaya sewa tempat tinggal/kost (RENT). Nge-kost di Sydney tidaklah sama seperti di Indonesia. Kamu masih bisa nge-kost dengan kamar sendiri bahkan kamar mandi sendiri. Di Sydney bisa dikatakan hal itu sangat jarang. Bagi pelajar umumnya kita sharing kamar dan kamar mandi. Sharing pun masih bisa dikatakan cukup mahal. Jika mau sekamar sendiri harganya cukup mahal. Hal ini tergantung kamu tinggal di kota (CBD) atau luar kota (Suburb). Di kota umumnya sharing kamar berkisar sekitar AUD150/org/week. Disini bayar uang kost rata-rata per minggu/per 2minggu (fortnight). Jika kamu tinggal di suburb biaya sewa sekitar AUD 175 kamu bisa dapat sekamar sendiri tapi kamu harus ingat biaya transport juga mahal. Nah, untuk menentukan kamu mau tinggal di kota atau di luar kota tergantung sekolah dan tempat kerja kamu yang lebih dekat daerah mana. Biaya transport dengan train ataupun bus rata-rata berkisar AUD2.00 per station. Jika transport dengan ferry lebih mahal minimum AUD3.00 per port. Jika kamu suka pantai atau tinggal di daerah yang berdekatan dengan pelabuhan di Sydney daerah-daerah tersebut sangat mahal. Seperti Bondi, Manly, Coogee, Watson Bay, Double Bay etc, merupakan daerah elite yang biaya nge-kost nya kisaran minimum AUD220/week. Nah, silahkan sesuaikan dengan budget masing-masing ya .. Itu baru biaya nge-kost dan transport. Bagaimana dengan makanan dan kebutuhan sehari-hari? Bahan makanan di Sydney rata-rata import atau dikirim dari kota lainnya di Australia. Jika kamu bisa memasak sendiri, memang lebih irit. Namun kendalanya adalah kamu tinggal sharing, jadi sangat sedikit ruang yg kamu bisa pakai untuk barang-barang kamu. Dapur dan kulkas pun harus berbagi. Jika mau memasak umumnya hanya bisa masak yg sederhana dan cepat saji seperti Indomie Goreng .. haha. Maklum ngirit .. hihi. Saya sendiri tidak suka masak karena malas cuci-cuci haha… Karena saya tinggal di kota, tempat makan sangat banyak dan buka sampi larut malam. Jadi lebih praktis beli saja daripada masak. Harga makanan disini bervariasi. Rata-rata AUD8-10/meals. Di luar kota jarang ada tempat makan yang buka sampai larut dan sedikit variasi maka dari itu bagi mereka yang tinggal di luar kota lebih baik masak daripada beli makanan di luar. Nah bagi kamu yg super sibuk belajar dan bekerja lebih baik beli saja daripada stock di kulkas akhirnya kebuang juga karena lupa saking sibuknya (seperti saya haha .. )

  • Sekolah di Sydney

Saya memilih sekolah di Sydney karena memang di Indonesia saya hanya tamat SMA (High School) dan belum pernah menempuh pendidikan lebih tinggi. Setelah memutuskan keluar dari pekerjaan saya sebagai Tour Guide selama 6 tahun, saya memutuskan untuk menyelesaikan pendidikan sebelum usia saya menginjak kepala 3 - .. hehe. Jika dibandingkan biaya sekolah di Universitas antara Sydney dengan Indonesia sangatlah berbeda. Jika mau sekolah Uni di Sydney kudu siap budget, siap mental, dan siap IELTS academic alias bahasa inggris kamu secara academic sudah harus bagus dan berstruktur. Jika kamu kuliah dengan biaya sendiri dan mau masuk Uni harus benar-benar matang dengan perhitungan biayanya. Dan jika kamu masih di support orang tua, yakin kan diri jangan sampai kamu putus di tengah jalan. Saya pribadi, tidak sanggup masuk Uni. Selain bahasa inggis saya belum sampai tingkat academic, biaya yang mejadi pertimbangan. Lalu saya putuskan untuk masuk College (tingkatnya lebih mudah daripada masuk Uni). Sekolah di College biasanya 2x seminggu (8pagi-4sore) atau 3x seminggu (5sore-10malam). Kalau sekolah Uni umumnya full time senin-jumat. Untuk jadwal sekolah ini berbeda masing-masing kampus.

  • Bekerja di Sydney

Dengan visa student, secara hukum kamu boleh bekerja 20jam/minggu. Selama libur sekolah kamu boleh bekerja full time 40jam/minggu. Pada umumnya pelajar akan bekerja paruh waktu untuk menutupi setidaknya biaya nge-kost. Untuk upah kerja minimum kamu bisa cek sendiri di website: www.fairworkombudsman.gov.au karena masing-masing upah miminum berbeda tergantung pekerjaannya. Pengalaman saya sendiri bekerja di coffee shop cukup menambah wawasan dan pengalaman bekerja di Sydney. Satu hal yang saya sadari bahwa Sydney adalah salah satu kota yang penduduknya gemar minum kopi. Budaya minum kopi di Sydney sudah sangat modern. Independent Coffee shop (Kedai kopi yang berdiri sendiri) lebih digemari daripada Franchise Coffee Shop seperti Starbucks. Jika kamu punya skills sebagai Barista, mencari pekerjaan di Sydney akan sangat mudah buat kamu. Karena di Sydney banyak gedung perkantoran dan kampus yang setidaknya ada coffee shop di kantin karyawan atau kampus. Belum lagi yang di kawasan turist, train station, pelabuhan dan kawasan yang ramai pengunjung. Design interior Coffee Shop di Sydney juga sangat modern dan minimalis. Penduduk Sydney sangat gemar menghabiskan waktu nya sebelum memulai pekerjaan di kantor bahkan hingga berjam-jam di kedai kopi untuk menikmati secangkir kopi sambil rapat dengan rekan kerja ataupun hanya sekedar menikmati waktu sendiri sambil membaca buku dan mendengarkan musik.

Happily working at Blaq Piq in Sydney's CBD

Happily working at Blaq Piq in Sydney's CBD

  • Menambah teman di Sydney

Rata-rata orang yang tinggal di Sydney terlihat sibuk dan jarang ngobrol. Bukan berarti mereka tidak ramah atau tidak mau berteman. Namun “waktu adalah uang” merupakan slogan yang tepat untuk kehidupan di Sydney. Budaya “on time” adalah sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan kebiasan hidup kita di Indonesia yang suka ngaret haha.. Saat bekerja mereka focus bekerja. Saat party mereka lupa segalanya .. haha alias benar-benar have fun. Bukan berarti lupa istri dan lupa hutang lo ya .. haha. Di Sydney saya bertemu banyak orang juga kehilangan mereka dengan sekejap. Hal ini karena beda waktu kerja dan jadwal sekolah masing-masing membuat kita cukup sulit untuk atur waktu ketemuan. Ini nieh yang beda dengan budaya kita, mau ketemuan saja harus janji jauh-jauh hari dan harus tepat waktu pula. Di Sydney saya merasakan sangat mudah mencari teman namun sulit mempertahankan nya karena alasan tadi. Tidak tentunya jadwal sekolah dan shift kerja membuat sulit ketemuan. Hal ini membuat saya cenderung menghabiskan waktu luang sendiri baik untuk olahraga, shopping atau mengerjakan tugas sekolah. Suatu malam saya pernah menerima telp dari teman yang pernah sy ajak kerja bareng dulu. Dia curhat karena merasa sendiri dan tidak ada teman ..haha .. nah kan .. kamupun bisa mengalami hal yang sama. Harus kuat mental dan terbiasa sendiri ya .. Tinggal di Sydney kita harus mandiri dan kuat.